Tambolaka, Suarajarmas.id – Meski denting lonceng Natal belum terdengar, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) mulai bergerak lebih awal.
Menjelang penutupan tahun 2025, SBD menggagas konsep besar: menjadikan wilayah ini sebagai destinasi wisata religi Natal dengan suasana yang hidup, berkesan, dan memiliki daya tarik khusus bagi wisatawan.
Gagasan visioner yang dicetuskan Bupati SBD, Ratu Ngadu Bonu Wulla, menjadi sorotan utama dalam rapat persiapan Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 yang digelar pada Jumat (21/11/2025).
Rapat tersebut dihadiri pimpinan OPD, tokoh agama, pelaku usaha, pengelola hotel, komunitas kreatif, hingga perwakilan BUMN.
Dalam rapat ini, pemerintah daerah menegaskan bahwa perayaan Natal tahun ini tidak boleh berlangsung seperti tahun-tahun sebelumnya.
Natal harus menjadi momentum baru bagi SBD untuk menghadirkan identitas daerah yang unik dan memiliki nilai wisata.
Sekretaris Daerah SBD, Edmundus N. Nau, membuka rapat dengan menekankan pentingnya kreativitas dan kesungguhan dalam persiapan.
“Persiapan Natal tahun ini jangan lagi apa adanya. Kita harus menghadirkan suasana yang benar-benar berbeda, yang menghidupkan kota dan desa,” tegasnya.
Visi tersebut dipertegas oleh Bupati Ratu Wulla, yang ingin menghadirkan atmosfer Natal yang kuat, hangat, dan berkarakter sehingga mampu menarik kunjungan wisata dari berbagai daerah.
“Saya bermimpi suasana Natal di Sumba Barat Daya benar-benar terasa. Kita ingin orang datang bukan hanya melihat alamnya, tetapi juga merasakan atmosfer dan kehangatan Natalnya,” ungkap Bupati.
Sebagai langkah nyata, pemerintah telah mengeluarkan surat edaran resmi yang ditandatangani langsung oleh Bupati untuk mengajak masyarakat, gereja, dan pelaku usaha ikut menyemarakkan perayaan Natal.
Sebagaimana kemeriahan tetap dalam suasana khusuk dan khidmat seperti wisata religi Semana Santa di Flores Timur yang setiap tahun menarik banyak pengunjung.
Bupati Ratu Wulla juga menekankan bahwa mimpi besar ini hanya dapat tercapai melalui kerja bersama. Pemerintah tidak mungkin bergerak sendiri tanpa partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lokal.
Sejumlah rencana teknis mulai disusun, antara lain:
• Penataan ornamen dan dekorasi Natal di ruang publik
• Pelibatan gereja, komunitas kreatif, dan pelaku UMKM dalam penyelenggaraan kegiatan tematik;
• Penciptaan spot-spot foto dan atraksi bernuansa budaya lokal;
• Kerja sama dengan hotel dan restoran untuk menghadirkan paket wisata dan agenda perayaan Natal
Semoga konsep dan perencanaan ini berjalan lancar dan “SBD menghadirkan ikon baru bagi wisata religi Natal.”***






























