Tambolaka, SuaraJarmas.id – Di sebuah rumah sederhana di pelosok desa jauh dari hiruk pikuk kota Tambolaka, seorang perempuan duduk menunduk. Matanya berkaca-kaca, suaranya bergetar ketika bercerita.
Kata-katanya menggambarkan beban yang tak kasat mata, beban yang mungkin dipikul banyak Orang dengan HIV (ODHIV) di Sumba Barat Daya (SBD).
“Kami tidak hanya hidup dengan virus, tapi juga hidup dalam ketidakpastian,” katanya perlahan.
Mereka bukan hanya berjuang melawan penyakit, tetapi juga menghadapi dinding tebal stigma sosial dan diskriminasi yang masih mengikat kuat di tengah masyarakat.
Setiap hari, rasa takut menjadi teman dekat mereka. Takut kehilangan pekerjaan. Takut anaknya dijauhi di sekolah. Takut dianggap berbeda.
“Kadang kami hanya ingin didengar, tapi untuk bicara saja kami takut. Sudah berkali-kali mencoba berani, tapi rasa takut selalu lebih besar,” ujarnya lirih.
Kehidupan mereka berjalan di antara keterbatasan dan harapan. Sebagian berusaha bertahan lewat usaha kecil seadanya.
“Sekarang kami piara babi untuk menyambung hidup. Modal terbatas, tapi apa boleh buat,” katanya lagi.
Di balik kesunyian itu, ada perjuangan yang tak pernah benar-benar terlihat. Mereka tidak hanya butuh obat dan layanan kesehatan, tapi juga butuh ruang aman, tempat untuk diterima tanpa stigma, tempat untuk tetap merasa manusiawi.
Sementara itu, Konselor VCT Sahabat Karitas Sumba Barat Daya, Emil Pemo, membenarkan bahwa banyak penyintas masih menutup diri karena trauma sosial.
“Mereka takut kehilangan pekerjaan, takut anak-anaknya dikucilkan, bahkan takut datang ke fasilitas kesehatan. Padahal penularan HIV tidak semudah yang orang bayangkan,” ujarnya saat ditemui di RS Karitas Weetabula, Sabtu pekan lalu.
Emil berharap ada perubahan cara pandang yang lebih manusiawi.
“Kami butuh empati, bukan simpati semu. ODHIV juga manusia yang punya mimpi, punya keluarga, dan ingin hidup bermartabat,” tegasnya.
Data terbaru mencatat, ditahun 2025 per September terdapat 47 kasus baru HIV di Sumba Barat Daya.
Artinya, rata-rata ditemukan sekitar lima kasus baru setiap bulan.
“Untuk tahun 2025 sampai September, ada 47 kasus baru,” jelas Emil.
Rata-rata lima kasus baru muncul setiap bulan, sebuah angka yang seharusnya menggugah kesadaran bersama bahwa persoalan ini bukan sekadar urusan medis, tapi juga persoalan kemanusiaan.
Kisah para penyintas di Sumba Barat Daya adalah cermin dari persoalan yang lebih luas di negeri ini. Mereka terus hidup, terus melangkah, dan terus berharap, bahwa suatu hari nanti, keberanian untuk tampil apa adanya tidak lagi harus dibayar dengan kehilangan martabat dan penerimaan dari sesama.***
































