Tambolaka, Suarajarmas.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumba Barat Daya (SBD) resmi menjalin kerja sama strategis dengan Lembaga Kursus dan Pelatihan Bahasa Asing James First Course (JF Course) sebagai langkah percepatan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di era pariwisata dan globalisasi.
Penandatanganan MoU dilakukan langsung Bupati SBD, Ratu Ngadu Bonu Wulla, di halaman BLK JF Course, Kota Tambolaka, Selasa (02/12/2025), dan disaksikan oleh Sekda SBD Etmundus N. Nau, Anggota DPRD Kabupaten SBD Tobias Dowa Lelu, Asisten I Bidang Pemerintahan Cristhofel Horo, Asisten III Bidang Administrasi Umum Enos Eka Dede, Kepala Bank NTT Cabang Weetabula Yusthinus MN Dunga, para camat, kepala desa, serta undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Bupati SBD Ratu Wulla menegaskan bahwa pembangunan pariwisata tidak boleh berhenti pada infrastruktur semata.
Ia menyampaikan bahwa kemajuan fisik tanpa kesiapan SDM hanya akan menjadi “bangunan tanpa nyawa”.
Ia juga mengapresiasi semangat generasi muda SBD, namun mengingatkan pentingnya kompetensi untuk menghadapi persaingan pariwisata global.
“Semangat anak muda SBD luar biasa. Tetapi semangat saja tidak cukup jika tidak dibekali kemampuan. Pelatihan seperti ini harus menjadi gerakan bersama, kita semua berjuang agar mimpi-mimpi masyarakat SBD bisa terwujud,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua JF Course, Lambertus James Dima, menjelaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar pelatihan bahasa, melainkan upaya merancang masa depan SBD sebagai destinasi pariwisata kompetitif di NTT.
“Bahasa Inggris adalah tiket untuk membuka pintu dunia. SBD sudah menjadi gerbang pariwisata, tetapi gerbang itu harus dijaga oleh SDM yang siap menyambut dunia,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa infrastruktur pariwisata SBD berkembang cepat, namun belum diimbangi dengan SDM yang memadai.
Menurutnya, Bali dan Labuan Bajo menjadi contoh bahwa pariwisata hanya mampu bertahan jika masyarakatnya memiliki kompetensi global.
JF Course membawa konsep pendampingan holistik dan integratif di 36 desa, untuk tahap pertama dimulai dari 5 desa percontohan yang diarahkan menjadi
“Desa Siaga Wisata” dengan penekanan pada penguatan bahasa Inggris, pelayanan tamu (hospitality), dan kesiapan masyarakat desa dalam menyambut arus kunjungan wisata yang terus meningkat.***
































