Katikutana,Suarajarmas.id — Di tengah derasnya arus informasi dan narasi keagamaan yang kerap terpolarisasi di ruang maya, sekelompok penyuluh agama Islam di Sumba Tengah justru memilih jalan berbeda: memproduksi konten dakwah digital yang damai, sejuk, dan mengedepankan nilai-nilai moderasi.
Semangat ini tercermin dalam Pelatihan Pembuatan Konten Kreatif Penyuluhan, yang digelar oleh Seksi Pendidikan dan Bimas Islam Kementerian Agama Kabupaten Sumba Tengah, Senin (16/06/2025), bertempat di Kantor Urusan Agama (KUA) Katikutana.
Acara ini bukan sekadar pelatihan teknis. Ia menjadi panggung refleksi bersama tentang peran strategis penyuluh agama sebagai penjaga narasi kebaikan di ruang digital. Turut hadir Wakil Ketua PCNU Sumba Barat Abdul Wahab yang tampil sebagai narasumber utama.
“Hari ini, dakwah tak bisa hanya dilakukan dari mimbar masjid. Kita harus hadir di ruang digital. Harus bisa bicara lewat video pendek, infografis, podcast. Kalau kita abai, ruang itu akan diisi narasi-narasi ekstrem dan menyesatkan,” ujar Wahab dengan nada tegas namun ramah.

Ia mengutip QS. An-Nahl: 125 sebagai fondasi dakwah digital: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…”, sembari menegaskan bahwa hikmah dan kelembutan komunikasi harus menjadi ciri dakwah Islam hari ini.
Dakwah Tak Lagi Konvensional
Kepala Kantor Kemenag Sumba Tengah dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan strategis moderasi beragama di akar rumput. Turut hadir Kepala Seksi Bimas Islam, serta para pejabat eselon IV Kankemenag setempat.
Pelatihan ini dirancang untuk membangun kapasitas teknis dan kreatif penyuluh agama, agar mampu bertransformasi menjadi komunikator ulung di media sosial—dari TikTok hingga YouTube, dari Canva hingga podcast.
Narasumber lain yang turut memperkaya diskusi adalah Jumadin Budaeng, S.Pd, yang membawakan sesi praktik pembuatan konten kreatif, serta Zulkamaen, S.Pd, yang membahas strategi penguatan dakwah digital berbasis algoritma dan keterlibatan audiens.
Dipandu moderator Siti Saiban Ismail, S.Pd.I, sesi pelatihan berlangsung interaktif dan penuh semangat. Peserta aktif berdiskusi, berbagi pengalaman, bahkan langsung mencoba membuat konten sederhana menggunakan ponsel mereka.

Dakwah Digital, Sedekah Zaman Kini
Menutup sesi, Wahab kembali mengingatkan bahwa dakwah digital bukan sekadar strategi komunikasi, melainkan bentuk sedekah modern. Ia menyitir hadits Nabi Muhammad SAW: “Ucapan yang baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bagi para penyuluh, pelatihan ini menjadi titik awal dari langkah yang lebih besar: mengubah ruang digital menjadi taman dakwah yang ramah, toleran, dan membangun.
“Ini bukan hanya soal teknik bikin konten, tapi soal tanggung jawab kita menjaga akhlak dakwah di tengah gempuran disinformasi,” ungkap salah satu peserta.
Kegiatan ditutup dengan evaluasi dan pernyataan komitmen dari para penyuluh untuk terus mengasah kemampuan mereka di medan dakwah digital—sebuah medan baru, yang menuntut ketekunan lama dan semangat zaman.***(AH).-































