Tambolaka, SuaraJarmas.id – Ada banyak cara untuk mengungkapkan harapan, tetapi bagi Karel Matheiz Latuheru, pemuda disabilitas dengan keterbatasan pendengaran memiliki bakat seni yang luar biasa, lewat seni sebuah cara yang di lakukan dengan cara diam adalah bahasa paling jujur yang ia miliki.
Lewat sehelai kanvas dan sapuan warna, sosok yang biasa dipanggil Karel itu memilih cara paling santun untuk menyampaikan pesan kepada pemimpinnya, Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Ratu Ngadu Bonu Wulla.
Karya itu berawal dari diskusi kecil antara Karel dan pendampingnya dari Yayasan Harapan Sumba (YHS), Rian Mawo. Dengan referensi foto Bupati yang ia lihat dari akun Facebook resmi @Ratu Wulla Talu, Karel mulai menggoreskan garis demi garis.
Tatapannya penuh ketelitian, seolah-olah ia sedang berbicara melalui warna dan bayangan.
Bakat melukis Karel bukanlah sesuatu yang baru. Sejak usia lima tahun, ia menunjukkan ketertarikan kuat pada seni rupa.
Ia pernah melukis dinding aula Kantor Desa Pogo Tena, batu nisan, tembok-tembok rumah warga, hingga membuat karya pribadi yang ia simpan sebagai koleksi.
Selain itu, ia juga memiliki keterampilan sebagai tukang tato, dua bakat yang hingga kini belum menjadi sumber pendapatan karena belum dikenal luas oleh masyarakat.
Pendampingan dari YHS memberi ruang baru bagi Karel. Ia mulai diberi kesempatan terlibat dalam kegiatan, mengasah kemampuan, dan memperlihatkan bakatnya kepada khalayak.
Mengapa ia memilih melukis wajah Bupati? Jawabannya sederhana namun menggetarkan; karena Bupati Ratu Wulla adalah orang nomor satu di SBD, dan melalui lukisan itu ia berharap bisa terlihat, diperhatikan, dan didengar.
Karel mengungkapkan bahwa selama ini kaum disabilitas masih sering belum mendapat perhatian yang memadai dari pemerintah.
Melalui lukisan wajah sang pemimpinnya, ia ingin menunjukkan bahwa mereka ada, mereka berkarya, dan mereka layak mendapatkan ruang serta kesempatan yang sama.
Lukisan itu bukan sekadar karya seni, itu adalah surat tanpa kata, pesan tanpa suara, dan ketukan halus di pintu hati sang “Ratu” dari seorang pemuda yang ingin masa depannya dipandang sama seperti yang lain.***































