LSM, Pahlawan Pemberdayaan Masyarakat 

Tambolaka, Suarajarmas.id – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di mata masyarakat Sumba pada umumnya Sumba Barat Daya (SBD) khususnya sudah akrab dan dikenal dekat oleh masyarakat. Kehadiran LSM tersebut membawa program yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

Konsep pemberdayaan LSM ini mendorong masyarakat untuk mandiri karena sudah mendapatkan penguatan kapasitas serta motivasi yang tinggi untuk menggunakan kemampuannya dan aset yang ada di desanya.

Demikian disampaikan oleh Ketua Fraksi PDI-Perjuangan kabupaten SBD, Octavianus Dapa Talu usai berdiskusi dengan pimpinan dan staf Yayasan Harapan Sumba (YHS) di hotel Sinar Tambolaka, Selasa (12/8/2025) malam.

Dirinya memberi apresiasi pada YHS yang hingga saat ini fokus mendampingi masyarakat di desa, khususnya bagi kelompok marjinal. YHS dikenal dari belasan tahun yang lalu fokus dalam pemberdayaan dan pendampingan masyarakat miskin dan kelompok marginal.

“Kita harus mendukung kerja nyata YHS yang saat ini fokus pada kelompok marjinal khususnya disabilitas, kelompok miskin dan anak-anak. Mereka adalah pahlawan pemberdayaan masyarakat” ungkapnya.

Dirinya juga mendorong pemerintah untuk mendukung karya-karya baik dari YHS, karena program YHS pada dasarnya mendukung program pemerintah membangun desa. Pemerintah diharapkan berkolaborasi dengan YHS.

Dalam diskusi tersebut direktur YHS, Stefanus Segu menjelaskan program dan kegiatan yang dijalankan oleh YHS saat ini terkait pendampingan pada masyarakat di beberapa desa dampingan.

YHS saat ini fokus pada pendampingan kelompok rentan yaitu orang miskin, penyandang disabilitas, perempuan dan anak korban kekerasan. Sejak tahun 2004 YHS sudah terlibat di bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi berkelanjutan.

“Untuk mendukung program kerja YHS, kami juga bermitra dengan pemerintah sehingga diharapkan sinergi dengan program kerja pemerintah. Kami juga mengharapkan dukungan dari legislatif, misalnya dengan adanya payung hukum, sehingga program kerja ini dapat berkelanjutan dan memungkinkan untuk menciptakan desa model” kata Stef Segu.

Dengan adanya desa model atau percontohan diharapkan desa-desa lain yang belum didampingi disorong oleh pemerintah untuk mengikuti praktek baik dari desa model tersebut.

Stef Segu menambahkan selama ini sudah banyak kegiatan pemberdayaan yang dilakukan namun kolaborasi dan sinergi dengan pemerintah dari desa sampai kabupaten belum optimal. Hal ini menyebabkan dampak dan keberlanjutan program menjadi tantangan tersendiri buat YHS.

YHS berusaha mendorong pemerintah di seluruh level untuk mengambil alih, mereplikasi dan bersinergi untuk mendukung hasil-hasil positif yang sudah terjadi. *** (AH).-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *