Tambolaka, SuaraJarmas.id – Ketua Fraksi Perindo DPRD Sumba Barat Daya, Stefanus Rangga Bola, menilai program yang dijalankan Yayasan Harapan Sumba (YHS) memiliki peran penting dan strategis dalam menyentuh kelompok disabilitas dan masyarakat rentan. Namun, ia menekankan perlunya perhatian serius terhadap aspek keberlanjutan dan komunikasi dengan pemerintah.
Hal tersebut disampaikan Perindo, saat dialog terbuka antara legislator dengan YHS di Pasola Hall Hotel Sinar Tambolaka, Kota Tambolaka, pada Selasa, 19 Agustus 2025.
“Apa yang dilakukan kawan-kawan yayasan sangat luar biasa menyentuh kelompok disabilitas dan kaum rentan. Isu ini bukan hal baru, sehingga banyak yang tak pernah didampingi merasa tertinggal dan ditinggalkan,” ujar Stef Rangga Bola.
Menurut Politisi Perindo yang juga mantan kepala desa 3 periode kekuatiran ini bukan tidak beralasan karena prinsip keberlanjutan memang penting, tetapi perlu dipastikan ada integrasi dengan pemerintah disemua level.
Ia menjelaskan bahwa DPRD tidak memiliki anggaran langsung, namun memiliki kewenangan untuk mendorong pemerintah, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten.
Sesuai dengan tampilan slide yang disampaikan melalui pemaparan kawan kawan YHS membuat kekuatiran dari politisi Perindo terkait pascasarjana program ini berakhir apakah ini bisa berlanjut atau ini hanya merupakan bagian cerita indah dimasa lalu.
Stef juga menyoroti pengalaman LSM dalam mendampingi kelompok desa. Ia mencontohkan produksi closed yang sempat berkembang, tetapi kemudian mandek setelah program selesai. Padahal, kualitas produk yang dihasilkan tidak kalah dengan barang yang ada di Toko.
“Ini sangat disayangkan, ada potensi tapi tidak dioptimalkan desa bahkan kabupaten. Kualitas produk closed bisa sama dengan yang ada di toko, bahkan tidak kalah kualitasnya dan jauh lebih murah.
Seharusnya para pengrajin ini bisa dijadikan aset desa yang perlu perhatian serius,” tegasnya.
Terkait pengembangan kelompok, Stef menilai pemerintah desa seharusnya bisa mengukuhkan kelompok yang sudah ada tanpa harus terus membentuk kelompok baru. Hal itu berlaku di berbagai bidang, seperti hortikultura, kerajinan, maupun perbengkelan.
“Harapannya, kelompok-kelompok binaan yang sudah ada bisa dikukuhkan oleh desa dan tidak lagi membuat kelompok baru. Kelompok yang sudah kuat dengan ilmu yang dimilikinya bisa dikembangkan terus sehingga mereka bisa menjadi aset desa. Sehingga tidak sedang kita cari kelompok baru lagi. Ini harapan saya dari praksi berikutnya,” tambahnya.
Ia menegaskan, DPRD akan tetap memberikan dukungan politik terhadap program yayasan, meskipun tidak memiliki alokasi anggaran langsung.
“Harapannya, kelompok binaan yang sudah ada dapat dikukuhkan desa dan terus dikembangkan menjadi aset, tanpa perlu membentuk kelompok baru. DPRD akan tetap memberi dukungan politik bagi program yayasan meski tanpa alokasi anggaran langsung,” ujarnya.***





























