Tambolaka, Suarajarmas.id – Sejak berdiri pada tahun 2017, JF Course telah membuktikan kapasitasnya sebagai lembaga pelatihan profesional dengan menjangkau empat kabupaten di Pulau Sumba serta menerima undangan pelatihan di Alor dan Pulau Sabu.
Berbekal rekam jejak tersebut, Ketua JF Course, Lambertus James Dima, menegaskan kesiapan lembaganya untuk “Go to NTT” sebagai langkah strategis mendukung penguatan sumber daya manusia dalam menghadapi pesatnya pembangunan infrastruktur pariwisata di wilayah tersebut.
Menurut James, kemampuan bahasa Inggris kini menjadi kebutuhan dasar bagi masyarakat di daerah yang tengah bergerak menuju pusat pariwisata.
“Bahasa Inggris adalah tiket open the door. SBD adalah salah satu gerbang pariwisata masa depan. Infrastruktur berkembang, hotel besar mulai hadir, rute transportasi semakin banyak. Tetapi semua ini akan menjadi bumerang jika tidak diimbangi SDM yang mumpuni,” ujarnya dalam sambutan penandatanganan MoU antara Pemerintah Kabupaten SBD dan JF Course, Selasa, 2 Desember 2025.
James menilai Sumba berada pada fase yang sangat menjanjikan. Jika Bali merupakan masa lalu dan Labuan Bajo masa kini, maka Sumba adalah masa depan pariwisata Indonesia.
Potensi tersebut, katanya, hanya bisa dioptimalkan melalui peningkatan kompetensi masyarakat, terutama dalam komunikasi internasional dan pelayanan wisata.
Program Holistik di Desa Wisata
Sebagai bagian dari komitmen itu, JF Course merancang pendekatan pelatihan holistik di lima desa wisata sasaran, meliputi pelatihan bahasa Inggris, penguatan mentalitas hospitality, serta pendampingan konseling bersama pemerintah desa dan orang tua.
“Desa harus menjadi desa siaga wisata. Kunci pariwisata adalah hospitality, bagaimana menyambut tamu, bagaimana melayani tamu sebagai raja,” jelas James.
Program ini akan melibatkan 10 peserta inti di setiap desa, dengan kemungkinan penambahan warga belajar yang dapat didanai oleh pemerintah desa apabila dibutuhkan.
Laporan perkembangan program juga akan disampaikan ke Pemda setiap enam bulan.
Komitmen Kemitraan Jangka Panjang
Dalam kerja sama jangka panjang, JF Course memastikan kesiapan membangun kemitraan berkelanjutan dengan pemerintah kabupaten, kecamatan, hingga desa.
“Jika kemitraan ini dibangun dengan baik, saya yakin kita bisa mencapai semua target. Fokus pada tujuan, bukan pada masalah,” tegasnya.
James menambahkan, percepatan peningkatan SDM membutuhkan lembaga kursus profesional yang memiliki manajemen dan tutor kompeten serta terbuka pada evaluasi.
“Lembaga ini lahir dari perut Loda Weemaringi Pada Weemalala. Kami tidak bisa berjalan sendiri. Butuh topangan dari semua pihak untuk menyiapkan SDM SBD yang siap menaklukkan dunia dengan menguasai bahasa Inggris,” ujarnya.
Bahasa Inggris, Kompetensi Era Teknologi
Menanggapi pertanyaan mengapa masyarakat desa wisata perlu kembali belajar bahasa Inggris, James menilai bahwa hal tersebut bukan lagi sesuatu yang perlu diperdebatkan.
“Itu pertanyaan retoris. Dunia sedang menuntut kompetensi bahasa asing, apalagi di era transisi Industri 4.0 ke 5.0. Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan membuat kemampuan bahasa Inggris menjadi semakin penting,” jelasnya.
Dengan komitmen memperkuat 36 desa melalui berbagai program pendampingan dan kemitraan, JF Course berharap SBD mampu bersaing sebagai destinasi wisata masa depan yang tidak hanya memiliki infrastruktur modern, tetapi juga sumber daya manusia yang unggul.***































