Kupang, Suarajarmas.id – Tim dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana (UNDANA) Kupang menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Posyandu Cempaka I Kaniti, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Selasa, 30 September 2025. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader serta ibu baduta dalam mencukupi kebutuhan gizi balita melalui menu B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman).
Kegiatan PkM bertajuk “Peranan B2SA dalam Mencukupi Kebutuhan Asupan Gizi Balita di Wilayah Lahan Kering Kepulauan dan Pariwisata” ini melibatkan dua dosen Undana, yakni Anna Henny Talahatu, S.Pi., M.Si. dan Marselinus Laga Nur, S.KM., M.Kes, bersama delapan mahasiswa tingkat akhir. Kegiatan ini diikuti tujuh kader posyandu serta 35 ibu balita.

Masalah gizi di Indonesia, termasuk NTT, masih menjadi tantangan serius. Riskesdas 2018 mencatat 3,9% balita mengalami gizi buruk dan 13,8% gizi kurang secara nasional. Di NTT, angkanya lebih tinggi: 7,3% gizi buruk dan 22,2% gizi kurang. Di Kabupaten Kupang sendiri, tercatat 2.388 balita gizi kurang dan 275 balita gizi buruk, dengan 9,5% mengalami wasting.
Marselinus Laga Nur, dalam pernyataan resminya yang diterima Suarajarmas.id, pada Selasa, 7 Oktober 2025, menjelaskan bahwa posyandu memiliki peran strategis dalam mendeteksi dan mengatasi masalah gizi.
“Kader posyandu perlu dibekali keterampilan yang praktis agar mampu memberikan edukasi yang tepat kepada ibu balita. Salah satunya dengan pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai MP-ASI,” ujarnya.

Kegiatan diawali dengan pretest untuk mengukur pengetahuan dasar peserta, kemudian dilanjutkan dengan sesi ceramah interaktif dan demonstrasi pengolahan PMT.
Anna Henny Talahatu menambahkan, bahwa pelatihan ini tidak hanya memberi teori tetapi juga praktik langsung.
Frekuensi, jenis, jumlah, dan waktu pemberian MP-ASI yang dianjurkan juga diedukasi Tim FKM UNDANA. Materi tambahan mengenai jajanan sehat anak diharapkan menjadi bekal kader dalam melakukan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat di wilayah masing-masing.

“Kami mengajak peserta (kader posyandu dan ibu) membuat olahan pangan lokal yang bernilai gizi tinggi supaya bisa diterapkan di rumah dan posyandu,” jelas Anna.
Revitalisasi posyandu menjadi penting mengingat masih adanya persepsi masyarakat bahwa layanan posyandu terbatas. Melalui kegiatan ini, dosen FKM UNDANA berharap kader dapat menjadi motor penggerak dalam meningkatkan status gizi dan kesehatan balita di wilayah lahan kering NTT.
Program ini sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam penanggulangan stunting dan ketahanan pangan, mengingat 25,89% kecamatan di NTT masuk kategori rentan rawan pangan. Pemberdayaan kader dan ibu balita melalui pemanfaatan pangan lokal dinilai sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan gizi keluarga.***




























