Tambolaka, Suarajarmas.id – Ketika kita memasuki ibadah Natal, kita sering membayangkan suasana hangat, lampu-lampu terang, nyanyian lembut, dekorasi indah, dan pertemuan keluarga. Tetapi menariknya bahwa kisah Natal yang asli tidak dibuka dengan kenyamanan. Matius sengaja membawa kita ke sebuah keluarga yang sedang berada di titik paling rentan dalam hidup mereka. Dan di situlah Injil mulai berbicara.
Demikian khotbah ibadah Natal yang dipimpin oleh Pdt. Ronaldo Gustaf Kondi, S.Th., saat memimpin ibadah Natal di GKS Mata, Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Provinsi NTT, Kamis (25/12/2025).
Tema yang diambil dalam ibadah Natal kali ini adalah ALLAH HADIR UNTUK MENYELAMATKAN KELUARGA, dengan nats bacaan Matius 1 : 21-24.
Pdt. Gustaf Kondi dalam khotbahnya menjelaskan Matius memulai dengan menyebut bahwa Maria “bertunangan” dengan Yusuf. Kata yang dipakai adalah mnēsteuō, tetapi yang ia maksud bukan tunangan seperti kita memahaminya hari ini. Dalam budaya Yahudi, pernikahan memiliki dua tahap: kiddushin dan nissuin.
Kiddushin adalah masa pertunangan suci, tetapi bukan sekadar janji. Ini adalah perjanjian yang mengikat secara hukum. Dalam masa ini, pasangan belum tinggal serumah dan belum membangun kehidupan intim, tetapi secara sosial mereka sudah dianggap suami-istri. Bahkan jika hubungan itu putus, yang diperlukan adalah surat cerai.

Dengan memahami ini, kita dapat memasuki dunia batin Yusuf dengan lebih jujur. Ketika ia mendengar bahwa Maria mengandung, dan ia tahu anak itu bukan dari dirinya, ia tidak hanya menghadapi pukulan emosional. Ia berhadapan dengan badai sosial yang berpotensi memalukan seluruh keluarga besar. Dalam masyarakat kolektif Yahudi, aib bukan hanya milik individu. Itu bisa menjadi stigma keluarga, bahkan desa.
Di tengah tekanan tersebut, Matius menyebut Yusuf sebagai “seorang yang tulus hati”, gelar yang dalam tradisi Yahudi menunjuk pada seorang yang menjaga kesetiaan pada Taurat. Dengan kata lain, reputasi Yusuf bukan reputasi sembarangan. Maka pergumulan Yusuf bukanlah pergumulan ringan. Ia terjepit antara suara hukum, suara masyarakat, dan suara hatinya sendiri.
Bagaimana seorang laki-laki harus bertindak ketika hidup membawanya pada persimpangan yang kelam? Bagaimana mempertahankan kebenaran tanpa mengorbankan belas kasih? Bagaimana menghormati Tuhan tanpa menghancurkan seseorang yang ia sayangi?
Pesan Natal yang digambarkan dalam kisah Yusuf ini Allah hadir disaat Yusuf sedang lemah dan kacau menghadapi masalah besar tunangannya Maria yang mengandung. Malaikat Tuhan datang kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu.”
Yusuf takut banyak hal: takut kehilangan reputasinya, takut menjadi bahan pembicaraan desa, takut dianggap melanggar hukum Taurat, takut bahwa masa depannya hancur karena keputusan yang tidak ia pahami. Ketakutan adalah posisi manusia yang wajar ketika realitas terlalu besar untuk dipeluk. Tetapi malaikat tidak datang untuk membatalkan ketakutan itu, melainkan untuk menempatkannya dalam perspektif ilahi “Anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.” Secara tidak langsung, malaikat berkata, Yusuf, apa yang tampak seperti kekacauan sebenarnya adalah ruang di mana Allah bekerja. Jangan mengusir Allah hanya karena cara-Nya membingungkan.

Kalimat itu mengubah arah seluruh kisah. Allah tidak hanya memberi informasi; Ia menyingkapkan makna. Ia tidak hanya menjelaskan; Ia menyatakan diri. Dan pada momen itu, ketakutan Yusuf perlahan kehilangan kuasanya. Malaikat kemudian memberi nama itu: Yesus. Nama itu berarti “Tuhan menyelamatkan”. Nama ini bukan sekadar penanda identitas, tetapi proklamasi misi. Yesus datang sebagai penyelamat. Di dalam nama itu ada inti dari seluruh Injil.
Lalu Matius mengutip Yesaya 7:14: “Mereka akan menamakan Dia Imanuel”, artinya “Allah beserta kita”. Nama Yesus menunjukkan apa yang Ia lakukan, nama Imanuel menunjukkan siapa Dia. Keduanya mengisahkan satu pribadi yang sama:
Allah menyelamatkan dengan hadir, dan hadir untuk menyelamatkan.
Perhatikan susunannya: Allah tidak mengutus penolong dari jauh. Ia masuk ke dalam sejarah. Ia mengambil risiko seperti Yusuf mengambil risiko. Ia hidup dalam dunia yang sama rapuhnya seperti dunia keluarga Yusuf yang sedang guncang. Allah tidak menyelamatkan dari kejauhan; Ia turun ke tengah keluarga manusia.
Dalam realita kehidupan saat ini banyak keluarga datang ke ibadah Natal tidak hanya dengan sukacita, tetapi juga dengan beban. Ada keluarga yang membawa cerita tentang jarak yang tidak terlihat, luka yang tidak terucapkan, atau harapan yang mulai memudar. Ada orang tua yang takut salah mendidik, anak yang takut mengecewakan, pasangan yang takut kehilangan satu sama lain, dan rumah yang takut roboh oleh tekanan hidup. Dalam semua keadaan itu, pesan Natal bukan sekadar “jangan takut” sebagai kata motivasi.
Pdt. Gustaf menekankan pesan Natal adalah Allah hadir di tengah ketakutan itu. Ia hadir bukan setelah badai reda, tetapi di dalam badai itu sendiri. Ia hadir untuk memulihkan, bukan menghakimi; untuk menyembuhkan, bukan menekan; untuk membangun kembali, bukan membiarkan runtuh.

Nama Yesus memberi harapan bahwa keselamatan itu nyata. Nama Imanuel memberi kepastian bahwa Ia tidak pernah jauh. Dan teladan Yusuf menunjukkan bahwa keluarga diselamatkan bukan oleh kesempurnaan, tetapi oleh ketaatan yang sederhana namun setia.
Dipantau oleh media ini, ibadah perayaan Natal 25 Desember 2025 di GKS Mata penuh sukacita yang dihadiri oleh kurang lebih 1.000 jemaat dan ibadah Natal juga diselingin dengan hiburan dari anak sekolah Minggu dan TK Eben Haezar GKS Mata.
Hadir dalam ibadah Natal tersebut ketua BPMJ Pdt. Irene Takandjandji, S.Th., bersama anggota BPMJ serta penatua dan diaken serta Kapolsek Loura dan keamanan dari Polres SBD. ***(Dial).-




























