Tambolaka, Suarajarmas.id — Menyusul insiden dugaan keracunan makanan yang dialami 198 siswa dari beberapa sekolah di Kabupaten Sumba Barat Daya,
pihak penyedia menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Dapur Mandiri bersama Yayasan Tana Manda Sumba menyampaikan permintaan maaf terbuka di hadapan awak media pada Selasa malam, 11 November 2025.
Ketua Yayasan Tana Manda Sumba sekaligus mitra Badan Gizi, Adam Mone, mengaku pihaknya sangat terpukul atas kejadian tersebut.
“Kami semua kaget bahkan meneteskan air mata. Tapi kami saling menguatkan bahwa kita harus berjiwa besar dan segera berbenah,” tuturnya.
Ia menjelaskan, timnya segera bergerak begitu menerima laporan dari Kepala Sekolah SMA Manda Elu.
“Kami langsung menuju sekolah untuk memastikan kondisi mereka,” ujarnya.
Menurut Adam, Dapur Mandiri Langgalero telah beroperasi sejak 20 Agustus 2025 dan selalu berupaya menjaga standar operasional.
Namun, ia mengakui masih ada kekurangan yang kini menjadi bahan evaluasi total.
“Kami selalu mengedukasi pihak sekolah agar bila menemukan makanan basi, berbau, atau tidak layak konsumsi segera dikembalikan untuk diganti. Siswa juga kami imbau melapor bila memiliki alergi terhadap lauk tertentu,” jelasnya.
Adam menegaskan fokus utama mereka kini adalah memastikan semua siswa yang sempat dirawat mendapat perhatian penuh, dan bersyukur dua siswa yang sebelumnya dirawat intensif sudah mulai pulih.
“Kami memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh siswa, keluarga SMA Manda Elu, SMA Alfonsus, dan semua pihak yang terdampak. Evaluasi menyeluruh dari proses persiapan hingga pendistribusian akan kami lakukan agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.
Sementara itu, Ahli Gizi SPPG Dapur Mandiri, Yulius Adi Papa, menjelaskan bahwa pengolahan makanan dimulai sejak Minggu, 9 November 2025 sore, dengan memastikan bahan seperti ayam, tahu, dan sayur dalam kondisi baik.
“Ayam dipotong, direbus dengan bumbu, lalu digoreng. Menu hari Senin terdiri dari nasi putih, ayam bumbu kuning, tahu goreng, sayur tumis wortel, buncis-labu, dan pisang mas. Pendistribusian dilakukan pukul 12.00 siang ke SMA Manda Elu dan SMA Alfonsus,” terangnya.
Namun, keesokan harinya, Selasa, 11/11/2025, kata dia, ratusan siswa mulai merasakan gejala pusing, mual, muntah, dan diare, yang diduga berasal dari makanan hari sebelumnya.
Ia pun menambahkan bahwa sebelum makanan dikirim, pihak dapur selalu melakukan uji rasa sebagai kontrol kualitas.
Menutup konfrensi persnya, Adam Mone menegaskan bahwa tidak ada sedikitpun niat dari pihaknya, menyiapkan makanan yang tidak layak konsumsi.
“Anak-anak penerima MBG ini adalah anak-anak kami juga. Kami akan mengambil hikmah dari kejadian ini untuk meningkatkan pengawasan dan kontrol yang lebih ketat,” ungkapnya.
Adam juga menegaskan keterbukaan mereka terhadap kritik publik.
“Kehadiran media malam ini penting bagi kami. Kami siap menerima kritik dan saran, mana yang perlu dibenahi, akan kami benahi,” pungkasnya.***


























