MENGAPA ORANG TUA HARUS MENJADI GURU MENULIS TANGAN BAGI ANAK?

Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Rapat Paripurna (20/10/2025) lalu menyampaikan keinginannya untuk menghidupkan kebiasaan menulis tangan di sekolah. Ia melihat tulisan-tulisan anak saat ini sangat kecil. Presiden Prabowo menghendaki adanya pelajaran menulis.

Presiden Prabowo juga khawatir jika siswa tidak dibiasakan menulis halus dengan tulisan besar, maka akan mengganggu kesehatan mata siswa dan anak harus pakai kacamata. Keinginan dan penegasan Presiden Prabowo untuk menghadirkan kembali kebiasaan menulis tangan seperti jaman dulu, pertama-tama bukan soal ukuran huruf yang kecil yang mengakibatkan gangguan mata sehingga siswa harus menggunakan kacamata pada usia yang masih sangat muda. Keinginan Presiden Prabowo untuk menghidupkan kebiasaan menulis tangan (pelajaran menulis) di sekolah pasti dilatarbelakangi oleh bukti-bukti ilmiah mengenai betapa pentingnya menulis tangan.

Bukti Ilmiah Manfaat Menulis Tangan

Penelitian James dan Engelhardt (2012) mengenai pengaruh pengalaman menulis tangan terhadap perkembangan fungsional otak pada anak-anak prasekolah menunjukkan bahwa menulis tangan penting untuk mengaktifkan wilayah otak yang mendasari keberhasilan membaca dalam pemrosesan huruf. Menulis tangan dapat memfasilitasi pemerolehan kemampuan membaca pada anak-anak usia dini. Anak-anak yang berlatih menulis tangan cenderung memiliki keterampilan membaca dan mengeja yang lebih baik. Sebaliknya, anak-anak yang belum belajar menulis dengan baik seringkali mengalami kesulitan dalam membaca, memahami makna keseluruhan teks, memahami konteks kata dan frasa, dan menguasai ejaan.

Anne Mangen, dkk (2015) dalam penelitiannya yang berjudul “Menulis Tangan versus Menulis dengan Keyboard: Pengaruhnya terhadap Kemampuan Mengingat Kata” memperlihatkan bahwa tulisan tangan berhubungan dengan kemampuan mengingat materi tertulis yang lebih baik dibandingkan dengan materi yang ditulis menggunakan keyboard pada komputer dan papan ketik virtual seperti yang ada pada iPad.  Penelitian Smoker, dkk (2009) yang berjudul “Membandingkan Daya Ingat Menulis Tangan versus Mengetik” menunjukkan bahwa memori lebih baik untuk kata-kata ketika kata-kata tersebut telah ditulis daripada ketika diketik. Menulis tangan membantu anak memproses informasi lebih dalam dan meningkatkan daya ingat jangka panjang dibandingkan dengan mengetik serta membantu anak lebih memahami bahasa secara menyeluruh. Ketika anak menulis dengan tangan, mereka harus memikirkan struktur kalimat, mengeja setiap kata, dan mempertimbangkan makna dari setiap frasa. Menulis tangan tidak hanya memperkuat kemampuan akademis, tetapi juga memiliki dampak positif pada keterampilan sosial dan emosional anak serta menumbuhkan kesabaran, fokus, dan ketekunan yang penting untuk pengembangan karakter.

Orang Tua Belajar untuk Mengajar

Pemahaman orang tua mengenai manfaat menulis tangan hendaknya menjadi pemicu dan pemacu bagi orang tua untuk menjadi guru menulis bagi anaknya di rumah. Tujuannya supaya anak memiliki kecerdasan akademis, keterampilan sosial dan emosional serta berkarakter positif.  Oleh karena itu, tidak ada jalan lain bagi orang tua selain belajar dan berlatih untuk menjadi ‘guru’ bagi anak-anaknya. Memang, tidak banyak orang tua yang belajar ilmu keguruan, termasuk teknik mengajar dan melatih anak untuk menulis tangan, tetapi orang tua sekurang-kurangnya pernah memiliki pengalaman diajar dan dilatih untuk menulis tangan oleh para guru mereka. Orang tua dapat belajar metode atau strategi mengajar dan melatih anak menulis tangan dari berbagai sumber belajar digital (internet) dan mempraktikkannya setiap hari. Orang tua hendaknya secara konsisten menyediakan ruang dan waktu bagi anak untuk menulis di atas kertas di rumah.

Orang Tua: Guru Menulis Tangan di Rumah

Setiap orang tua pasti menghendaki anak-anaknya menjadi manusia yang cerdas secara akademik (kemampuan berpikir kritis dan analitis), memiliki kecerdasan sosial, kecerdasan emosional dan berkarakter positif yang memungkinkan mereka untuk   berperan dalam kehidupan sosial. Kehendak dan keinginan orang tua tersebut akan terwujud apabila orang tua menjadi guru menulis tangan di lingkungan keluarga, bukan hanya mengandalkan guru di sekolah. Guru memang memiliki tanggung jawab profesional dan moral untuk mengajar, melatih dan mendidik anak, termasuk melatih anak untuk menulis tangan sebagaimana yang dikehendaki oleh Presiden Prabowo. Namun, guru memiliki keterbatasan waktu, tenaga, otoritas, dan sumber daya lain yang kurang memungkinkan guru untuk membimbing setiap siswa secara maksimal dalam urusan menulis tangan dan membaca.

Harapan terhadap orang tua untuk menjadi guru menulis tangan bagi anak-anak bukan tanpa alasan. Pertama, orang tua memilki cita-cita alamiah agar anak-anaknya memiliki kecerdasan akademik, memiliki keterampilan sosial dan emosional  serta berkarakter positif. Kedua, bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa menulis tangan, selain memperkuat kemampuan akademis, keterampilan sosial dan emosional anak, menulis tangan juga mendorong kesabaran, fokus, dan ketekunan, yang penting untuk pengembangan karakter anak. Ketiga, banyak orang tua (dan angggota keluarga inti) yang berpendidikan dan mereka tentu memiliki keterampilan untuk menjadi guru menulis bagi anak di rumah. Keempat, orang tua memiliki ikatan emosional yang kuat dengan anak, waktu kebersamaan dengan anak jauh lebih lama dibandingkan dengan guru di sekolah, dan orang tua memiliki otoritas penuh terhadap anak yang memungkinkan anak patuh atau taat pada kehendak dan perintah orang tua dibandingkan dengan otoritas yang dimiliki guru. Kehendak dan cita-cita orang tua supaya anak-anak memiliki kecerdasan kognitif, sosial, emosional dan berkarakter positif akan terwujud ketika orang tua belajar untuk mengajar anak menulis tangan dan menjadi guru menulis tangan bagi anak di rumah.

Penulis adalah dosen Universitas Katolik Weetebula, Sumba Barat Daya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *