Tambolaka, Suarajarmas.id – Masyarakat Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) belum lama ini merayakan Hari Ulang Tahun ke-18 Kabupaten SBD, tepatnya pada tanggal 22 Mei 2025. Apabila diibaratkan dengan manusia, usia 18 tahun merupakan usia seorang remaja yang memasuki tahap akhir perkembangan remaja atau sering disebut sebagai “late adolescent” (remaja akhir). Remaja yang berada pada tahap ini cenderung lebih matang dalam emosi dan pengambilan keputusan, mulai fokus pada tujuan hidup dan masa depan. Ibarat seorang remaja berusia 18 tahun, masyarakat SBD sedang terbergerak ke arah kematangan; matang dalam mengambil keputusan yang menyangkut hidup masyarakat, fokus pada tujuan pembangunan manusia dan masa depan masyarakat SBD. Pada aspek kognitif, remaja berusia 18 tahun mampu berpikir secara lebih abstrak dan logis, serta mulai memikirkan masa depan dan tujuan hidup mereka. Kemampuan berpikir abstrak, logis, kreatif serta kemampuan memikirkan masa depan dan tujuan hidup tentu menjadi cita-cita masyarakat dan pemerintah SBD. Pembangunan manusia hendaknya berorientasi pada kompetensi abad 21, yakni keterampilan berpikir kreatif, berpikir kritis dan pemecahan masalah, keterampilan berkomunikasi dan berkolaborasi. Kompetensi abad 21 hanya mungkin untuk dimiliki masyarakat SBD apabila masyarakat SBD atau masyarakat Sumba dibangun menjadi masyarakat pembelajar. Masyarakat pembelajar merupakan konsep yang menekankan pentingnya menciptakan budaya belajar yang aktif dan dinamis di dalam masyarakat. Belajar bukan hanya terbatas pada lingkungan pendidikan formal seperti sekolah, tetapi juga berlangsung di berbagai aspek kehidupan, termasuk di keluarga, komunitas, desa, kampung dan lingkungan kerja. Pertanyaannya, di mana tempat belajar dan sumber belajar?
Toko Buku dan Perpustakaan
Pertanyaan mengenai tempat belajar dan sumber belajar mengarahkan pikiran kita pada toko buku dan perpustakaan. Pertanyaannya: berapa banyak toko buku atau perpustakaan di SBD bila dibandingkan dengan jumlah toko yang menyediakan berbagai jenis barang atau produk? Kebutuhan masyarakat SBD atau masyarakat pulau Sumba pada umumnya sebagian besar sudah tersedia dan mudah diperoleh. Toko bangunan, toko sembako, toko pakaian, toko elektronik, dealer mobil dan sepeda motor, toko handphone, dan penyedia berbagai jenis kebutuhan lainnya tersebar di berbagai pelosok wilayah SBD atau Sumba pada umumnya. Apalagi saat ini ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret yang tersebar di SBD dalam jumlah yang banyak dan terus bertambah jumlahnya. Singkatnya, sebagian besar atau bahkan hampir seluruh kebutuhan warga SBD tersedia di ritel tradisional maupun ritel modern, tetapi tidak demikian dengan buku-buku.
Mengapa Buku?
Meskipun muncul teknologi baru yang menyebarluaskan pengetahuan, seperti internet dan inovasi lain berdasarkan komputer, buku-buku tradisional dan surat kabar tetap merupakan sumber informasi yang utama. Prof. Karlina Supelli, seorang filsuf dan astronom pertama dari Indoensia, mengatakan bahwa buku tidak bisa diganti dengan tiktok dan nonton film. Alasannya adalah kerja otak hanya bisa dilatih menjadi tajam kalau otak itu berdialog, yaitu dengan baca buku. Ketajaman berpikir hanya bisa diasah lewat aktivitas membaca, karena hanya di sanalah otak benar-benar diajak bekerja keras dan berdiskusi. Membaca membuat kita tidak mudah diarahkan, tidak mudah diseret arus informasi yang dangkal, tidak gampang hanyut oleh narasi besar yang belum tentu utuh dan benar. Membaca buku merupakan salah satu kunci untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dengan membaca, seseorang dapat memperoleh pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan memperluas wawasan, yang pada akhirnya berkontribusi pada kemajuan masyarakat dan negara.
Menuju Masyarakat Pembelajar
Masyarakat pembelajar adalah komunitas yang berkomitmen untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman mereka secara terus-menerus. Masyarakat pembelajar melihat pembelajaran bukan hanya sebagai kewajiban sekolah atau tuntutan pekerjaan, tetapi sebagai gaya hidup yang terus berkembang. Semua anggota masyarakat harus merasa didorong dan didukung untuk terus belajar, tanpa memandang usia, latar belakang, atau pekerjaan mereka. Pembentukan komunitas pembelajaran, diskusi terbuka, dan pertukaran pengetahuan antarindividu merupakan ciri masyarakat pembelajar. Oleh karena itu, keberadaan toko-toko buku dan perpustakaan di desa-desa atau kampung-kampung menjadi syarat kunci untuk menuju masyarakat pembelajar. Apabila pemerintah daerah mengalokasikan dana untuk membangun toko-toko buku dan perpustakan-perpustakaan sebagai tempat belajar dan sumber belajar di setiap desa dan kampung-kampung, yakinlah minat baca serta dorongan untuk memiliki buku-buku yang sesuai dengan minat dan kebutuhan akan meningkat. Dengan demikian, masyarakat kita secara perlahan akan bergerak menuju masyarakat pembelajar.
Dari Masyarakat Pembelajar Menuju Masyarakat Maju
Masyarakat pembelajar adalah masyarakat yang memiliki kebiasaan membaca. Membaca memungkinkan warga masyarakat memiliki akses ke berbagai informasi, ide, dan perspektif yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya. Dengan terpapar pada berbagai ide dan perspektif, membaca dapat memicu kreativitas dan inovasi. Pikiran yang terbuka dan terasah melalui membaca lebih mampu menghasilkan solusi baru untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Pikiran yang terasah melalui membaca dapat diterapkan untuk memecahkan masalah, membuat keputusan yang lebih baik, dan menciptakan solusi inovatif untuk berbagai tantangan dan masalah. Berbagai riset memperlihatkan bahwa negara-negara yang masuk kategori negara maju adalah negara dengan budaya membaca tinggi atau negara dengan tingkat literasi terbaik di dunia. Di negara-negara maju, membaca seringkali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, baik untuk tujuan pendidikan, hiburan, maupun informasi. Negara-negara maju biasanya memiliki perpustakaan umum yang lengkap, toko buku yang mudah diakses, dan sistem pendidikan yang mendukung pengembangan minat baca sejak usia dini. Singkatnya, masyarakat pembelajar memiliki minat dan kebiasaan membaca. Membaca membuka pikiran, pikiran mendorong inovasi dan pemecahan masalah, dan pada akhirnya, semua itu berkontribusi pada kemajuan individu dan masyarakat. Maka, ketika toko-toko buku dan perpustakaan tersedia di desa-desa dan kampung-kampung di wilayah SBD, sesungguhnya masyarakat SBD sedang berlangkah menuju masyarakat pembelajar dan dari sana bergerak menuju masyarakat maju.***(AH).-
Articel By: P. Silvester Nusa, CSsR, M.A., dosen Universitas Katolik Weetebula, Sumba Barat Daya.























Selain daripada itu, edukasi terhadap masyarakat khususnya pelajar perlu ditingkatkan pentingnya membaca. Meski saat ini di Sumba pada terlebih khusus di SBD, belum ada toko buku atau perpustakaan yang tersedia, masyarakat, khususnya pelajar bisa memanfaatkan teknologi saat ini untuk membaca. Dalam hal ini, teknologi tidak disalahgunakan.
Kemajuan teknologi saat ini bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menambah pengetahuan dalam bidang pendidikan, melalui literasi berbagai sumber di platform oneline seperti membaca novel di aplikasi Fizzo, Google Play Books dan aplikasi lainnya. Selain aplikasi, kegiatan membaca juga dapat diakses melalui website seperti membaca berita, artikel ilmiah, dan jurnal yang dapat menunjang pengetahuan. Oleh karena itu, sosialisasi di masyarakat dapat menumbuhkan pembiasaan membaca sejak dini. Sosialisasi dapat dilakukan lewat sekolah, desa dan kegiatan sosial lainnya.