Tambolaka, SuaraJarmas.id – Kondisi orang dengan HIV (ODHIV) di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) terbilang memprihatinkan.
Mereka masih kesulitan mengakses layanan kesehatan, memperoleh pekerjaan, dan mengakses modal.
Kondisi ekonomi yang terbatas membuat mereka juga sering terhambat dalam berinteraksi sosial.
Mirisnya lagi, banyak keluarga tidak mengetahui kondisi anggota keluarganya yang terinfeksi karena adanya ketakutan akan stigma dan perlakuan diskriminatif dari masyarakat.
Kasus HIV di SBD ini terus meningkat. Setiap bulan tercatat ada tambahan 3 hingga 5 pasien baru.
Hal tersebut diungkapkan Emil Pemo, Konselor sekaligus Penanggung Jawab VCT Sahabat Karitas Weetabula, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (24/09/2025).
“Penanggulangan HIV/AIDS di SBD ini memang masih lemah,” tegas Emil.
Menurutnya, persoalan ini bukan hanya karena keterbatasan layanan, tetapi juga rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dini.
“Padahal gejala awal HIV kadang mirip penyakit ringan, biasanya seperti batuk, pilek, atau diare,” jelasnya.
Emil menambahkan, banyak warga enggan memeriksakan diri karena kurangnya pengetahuan tentang HIV.
Akibatnya, sebagian baru datang ke layanan kesehatan saat kondisi sudah parah.
Ia juga menyoroti masih banyak pasien yang berhenti atau hilang di tengah jalan meski sudah terdiagnosis dan memulai pengobatan.
“Alasannya macam-macam, ada faktor ekonomi, sulitnya akses transportasi, kurang dukungan keluarga, sampai stigma negatif yang masih kuat di masyarakat.
Stigma ini membuat pasien dan keluarganya sering mendapat diskriminasi, sehingga semangat mereka untuk melanjutkan pengobatan ikut turun,” ujarnya.
Untuk itu, Emil menekankan pentingnya edukasi yang berkelanjutan, baik oleh tenaga kesehatan maupun kader peduli HIV.
Ia juga mendorong layanan kesehatan agar lebih proaktif.
“Mungkin perlu ada kunjungan rumah oleh rumah sakit atau puskesmas, supaya bisa memberikan dukungan dan edukasi langsung kepada pasien maupun keluarganya,” sarannya.***


























