Suarajarmas.id – Tambolaka. Tingginya prevalensi angka stunting di kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) Nusa Tenggara Timur menjadi perhatian Yayasan Jaringan Peduli Masyarakat (JPM). JPM yang merupakan lembaga nirlaba yang bekerja di Indonesia sejak 2019 melakukan pendampingan di 6 desa di Kecamatan Loura, Wewewa Barat, dan Wewewa Selatan dengan durasi proyek 10 (sepuluh) bulan yang telah dimulai sejak tanggal 1 Maret 2024 dan berakhir tanggal 31 Desember 2024. Proyek ini dilaksanakan di 6 desa yaitu Desa Karuni dan Ramadana di Kecamatan Loura, Desa Taworara, Kalembu Tillu dan Pero di Kecamatan Wewewa Barat dan Desa Delo di Kecamatan Wewewa Selatan.
Didukung oleh Danone Indonesia, JPM saat ini menjalankan program Generasi Bebas Stunting melalui Nutrisi Edukasi Keluarga Menuju Sehat (GASING NEKMESE) Fase 5 yang merupakan proyek pencegahan dan penanganan stunting untuk menyikapi kondisi tingginya prevalensi angka stunting di kabupaten SBD.
Adapun tujuan program tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan masyarakat dalam bidang kesehatan, pendidikan dan ketahanan pangan serta berkontribusi dalam pencapaian kondisi masyarakat yang tangguh terhadap bencana, melalui kegiatan-kegiatan yang teratur, terencana dan berkesinambungan dan memastikan keterlibatan kelompok rentan, perempuan dan penyandang disabilitas dalam proses pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam pelaksanaan program, Yayasan JPM berkolaborasi dengan Pemerintah Desa, Puskesmas, Kecamatan, Dinas Kesehatan dan OPD terkait lainnya. Sehubungan dengan menjelang berakhirnya fase program 2024 dan dalam rangka persiapan untuk fase yang baru di tahun 2025, maka Danone Indonesia dan Yayasan JPM berencana untuk memaparkan pencapaian program tahun 2024 dan bersama para stakeholder, berembuk bersama dalam rangka sharing kapasitas dan menjajaki peluang untuk persiapan program tahun 2025.
Untuk itu, Yayasan JPM dan Danone Indonesia melaksanakan sebuah Workshop Konvergensi Penanganan dan Pencegahan Stunting tahun 2025 bersama OPD-OPD terkait Pemda SBD, Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa yang dibuka secara resmi oleh Pj. Bupati SBD.
Direktur Yayasan JPM, Yohanis Pakereng, yang dihubungi media ini usai kegiatan mengatakan workshop Konvergensi Penanganan Pencegahan Stunting dan Rencana Rembuk Program Air Bersih ini digelar untuk menyampaikan pencapaian Program Gasing Nekmese tahun 2024 pada lokasi dampingan di kabupaten SBD. Menyampaikan hasil rapid assessment air bersih di desa-desa dampingan program Gasing Nekmese.
Selain itu melalui workshop ini, pihaknya ingin membangun peluang kolaborasi kegiatan dan kapasitas bersama OPD terkait untuk perencanaan Program Gasing Nekmese tahun 2025.
“Ini akan menjadi masukan bagi Pemerintah Daerah SBD dalam rangka melakukan asistensi Anggaran pada OPD terkait dan asistensi Dana Desa tahun 2025, khususnya di desa–desa dampingan program” tutur Yohanis menjelaskan.
Melalui Workshop ini JPM berharap stakeholder mendapat informasi tentang pencapaian Program Gasing Nekmese sekaligus mendapatkan masukan untuk peningkatan pelaksanaan program ke depannya dan mendapat gambaran mengenai pemetaan kondisi air bersih dan peluang berkolaborasi pekerjaan air bersih. Adanya kesepakatan terkait peluang untuk berkolaborasi dan bersinergi dalam hal kapasitas untuk kegiatan–kegiatan yang akan dilaksanakan bersama OPD terkait untuk perencanaan penanganan stunting tahun 2025.
“OPD terkait mendapat masukan untuk asistensi anggaran dana desa bagi kegiatan – kegiatan yang dapat dikolaborasikan dengan Program Gasing Nekmese tahun 2025“ jelasnya.
Pj. Bupati SBD, Ir. Yohanes Octavianus, MM., saat membuka kegiatan menyampaikan agar program Gasing Nekmese dapat dikembangkan lagi dengan dukungan dari TPPS dengan memperhatikan pada hasil–hasil yang dapat dianalisa secara sistimatis. Penjabat Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada Danone Indonesia dan Yayasan JPM yang sudah berupaya mendukung penanganan stunting di SBD sejak tahun 2023. *** (Isto).-


























