SUARA JARMAS – Individu yang secara rutin mengalami tingkat stres yang tinggi memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap tekanan darah tinggi, obesitas, dan faktor risiko kardiometabolik lainnya.
Hal ini didasari oleh hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of American Heart Association.
Menurut laporan yang dipublikasikan oleh Medical Daily, pada Kamis, 18 Januari 2021, sebuah penelitian dilakukan dengan melibatkan 276 peserta dari Southern California Children’s Health Study di Amerika Serikat.
Alat yang digunakan oleh para peneliti untuk mengevaluasi persepsi kondisi tidak nyaman ini yaitu Perceived Stress Scale (PSS).
Diketahui, PSS mengukur sejauh mana seseorang mengevaluasi tingkat stres dalam situasi kehidupan mereka.
Untuk anak-anak berusia dini sampai 6 tahun, PSS didapatkan melalui tanggapan yang diberikan oleh orangtua peserta. Kemudian, para peserta mengungkapkan sejauh mana mereka merasakan kondisi tidak mengenakkan itu.
Lebih lanjut, para peserta dibagi menjadi 4 kelompok berdasarkan tingkat risiko stres yang dialami secara konsisten.
Adapun 4 Kelompok tersebut seperti stres tinggi yang terus-menerus, yang menurun, yang meningkat, dan stres rendah yang konsisten dari waktu ke waktu.
Skor risiko kardiometabolik mereka dihitung berdasarkan berbagai faktor, seperti ketebalan arteri pada leher, tekanan darah saat sistolik dan diastolik, berat badan, presentase lemak tubuh, distribusi lemak, dan juga hemoglobin A1c.
Menurut hasil penelitian, para ahli mencatat bahwa tingkat kecemasan yang dirasakan lebih tinggi memiliki hubungan yang lebih besar dengan ancaman yang lebih tinggi terhadap kesehatan jantung dan metabolisme.
Ilmuwan juga menunjukkan bahwa individu yang menghadapi tekanan yang semakin besar mulai dari masa remaja hingga dewasa, cenderung memiliki kondisi kesehatan pembuluh darah yang kurang baik.
Selain itu, jumlah lemak tubuh yang lebih tinggi secara keseluruhan, penumpukan lemak perut yang lebih signifikan, serta memiliki risiko obesitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang mengalami penurunan tingkat stres seiring berjalannya waktu.
Secara umum, risiko terhadap kondisi kesehatan kardiometabolik juga meningkat seiring dengan tingkat stres yang dirasakan.
“Misalnya, orang dewasa yang mengalami tingkat stres yang lebih tinggi cenderung memiliki kesehatan pembuluh darah yang lebih buruk serta tekanan darah sistolik dan diastolik yang lebih tinggi,” jelas peneliti.
Namun, terdapat keterbatasan dalam penelitian ini karena melibatkan jumlah peserta yang terbilang sedikit.
Studi yang dilakukan oleh Fangqi Guo dari University of Southern California, Los Angeles, Amerika Serikat, menekankan pentingnya pemahaman terhadap efek stres pada masa kanak-kanak.
Studi ini menjadi upaya untuk mencegah, mengurangi, atau mengelola faktor risiko kardiometabolik yang lebih tinggi pada populasi dewasa.
“Temuan kami menunjukkan bahwa pola stres yang dirasakan dari waktu ke waktu memiliki dampak luas pada berbagai tindakan kardiometabolik termasuk distribusi lemak, kesehatan pembuluh darah, dan obesitas,” tukas Fangqi Guo.***


























