Tambolaka, SuaraJarmas.id – Generasi muda Sumba didorong untuk menjadi agen perubahan melalui edukasi, kampanye kreatif, hingga pendampingan teman sebaya, demi masa depan yang lebih baik.
Pemuda memiliki peran strategis di tengah masyarakat.
Kedekatan mereka dengan teman sebaya, akses terhadap media sosial, serta kemampuan membentuk komunitas menjadikan mereka kunci dalam mendorong perubahan positif, terutama di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Isu pernikahan dini, kekerasan berbasis gender, penyalahgunaan narkoba, hingga kesehatan mental masih menjadi tantangan nyata.
Karena itu, pemuda diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi tampil sebagai motor penggerak perubahan.
“Suara pemuda lebih mudah didengar oleh teman sebaya. Mereka bisa menjadi teladan untuk menunda pernikahan dini, fokus pada pendidikan, dan berkarya,” ujar Bony A. Haning, Pendiri Yayasan Setitik Cahaya Gen-Z, saat ditemui usai memberikan materi dalam kegiatan Bimtek Youth Campaign di Hotel Sumba Sejahtera, Tambolaka, Kamis (18/09/2025).
Bony, yang juga seorang youth counselor menegaskan, pemuda bisa mengambil banyak peran penting.
Sebagai edukator, mereka menyebarkan informasi benar di sekolah, kampus, gereja, maupun masjid.
Sebagai influencer, mereka memanfaatkan media sosial untuk kampanye kreatif melalui video, kutipan inspiratif, maupun kisah nyata.
Tak hanya itu, pemuda juga berperan sebagai pendamping teman sebaya yang menghadapi tekanan pernikahan dini, sekaligus sebagai advokat yang mendorong lahirnya kebijakan pro-anak dan pro-pendidikan di daerah.
Pendekatan sederhana seperti Butterfly Hug—teknik pelukan diri untuk meredakan kecemasan—dapat dipraktikkan oleh pemuda sebagai langkah awal menjaga kesehatan mental, lalu ditularkan ke komunitas sekitar.
Bony juga menyoroti kaitan erat antara kesehatan mental dan pernikahan dini.
“Banyak anak yang tumbuh dengan luka batin atau kekerasan dari orang tua akhirnya mencari kasih sayang di luar rumah.
Hal ini membuat mereka cepat menikah meski belum siap. Akibatnya, pernikahan dini sering menimbulkan pertengkaran, kekerasan, dan pola asuh yang kurang baik.
Masalah ini kemudian diwariskan ke anak, sehingga menjadi siklus yang terus berulang,” jelasnya.
Di tengah derasnya arus perubahan sosial, keterlibatan pemuda Sumba diharapkan menjadi benteng bagi generasi muda agar tidak terjebak dalam praktik-praktik yang merugikan masa depan.
“Jadilah duta perubahan mulai dari diri sendiri. Jika pemuda di Sumba berani mengambil peran, perubahan besar pasti bisa kita capai bersama,” tutup Bony.***


























